Tuesday, April 14, 2009

Hadapi "Generasi Digital", Kita Harus Siap!(Bagian III-Habis)

Dengan begitulah tercipta sinergi antara guru, orang tua, dan murid. Jika murid dan orang tua kemudian bisa berkomunikasi di rumah, sinergi itu kemudian mencipta komunikasi antara guru dan murid untuk berbagi pengalaman saat kembali menerapkan teknologi di dalam kelas.

Di beberapa pelatihan yang digelar oleh Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI), para pendidik diberi kesempatan mengembangkan cara merancang kebijakan dalam penggunaan teknologi di sekolah dengan melibatkan partisipasi siswa. Tujuannya, proses pembelajaran menggunakan teknologi ini memungkinkan terciptanya rasa tanggung jawab yang tumbuh dari diri siswa untuk menjaga nama baik siswa, guru, dan sekolahnya.

Setelah peserta mengetahui upaya menciptakan guru dan siswa menjadi warga digital yang baik tersebut, Gerald Donovan, Wakil Direktur sekaligus Guru Bahasa Inggris di Sekolah Bogor Raya, melengkapi sesi pelatihan berikutnya dengan judul 'How to Utilize Web 2.0 in Learning Processes'. Di sini, peserta diperlihatkan berbagai contoh situs pembelajaran online, baik yang dikembangkan oleh guru maupun oleh siswa.

Pada sesi pelatihan terakhir itu, Gerald, yang rajin menggunakan teknologi dalam proses pembelajarannya, mengajak peserta berpraktek langsung melakukan interaksi secara online menggunakan beberapa teknologi Web 2.0. Mereka, para guru itu, dikenalkan mulai dari Google Earth, Google Sketch Up, Delicious, Youtube, Wiki, serta beberapa online games yang dapat digunakan guru dan orangtua dalam memfasilitasi proses pendidikan, baik di sekolah maupun rumah.

Berangkat dari situ, Gerald kembali menggaris bawahi kebijakan sekolah dalam penggunaan internet, yang disebutnya dengan Acceptable Used Policy (AUP). Dalam hal ini, beliau menegaskan anak yang terlibat dalam situs terlarang adalah anak yang memang berniat mengaksesnya. Sebaliknya, mereka akan mengalihkan situs tersebut bila mereka tidak menginginkannya.

Jadi, kunci utama sebenarnya adalah empowerment, bukan control terhadap anak maupun kebijakan sekolah itu sendiri. Lalu, Gerald pun mengajak peserta yang terdiri dari guru dan orang tua murid agar memiliki keinginan untuk memulai dan terus belajar menggunakan teknologi di setiap saat membimbing anak dan siswanya dalam menggunakan teknologi. Gerald mengharapkan, para guru dan orang tua bisa berkomunikasi dan berbagi pengalaman saat mereka kembali ke sekolah ketika menerapkan teknologi di kelasnya.

Tentu hal ini tidaklah mudah bagi seorang guru ataupun orangtua dalam mempersiapkan anaknya sebagai ahli waris teknologi di dunia pendidikan. Perlu adanya komitmen yang kuat dan jalinan kerjasama yang baik antara pemerintah, kepala sekolah, guru, siswa dan orangtua serta masyarakat dalam merubah paradigma ini.

Ya, sebuah perubahan yang baik perlu diselaraskan dengan cara pandang yang baik pula. Kita tak lagi dapat bersembunyi dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Banyak aspek kehidupan yang belum lahir 20 tahun yang lalu, kini hadir di tengah-tengah kita, di jenis lapangan kerja baru, materi perkuliahan baru, serta bisnis dan industri baru, baik skala kecil, menengah, maupun besar.

Perubahan akan terus berlanjut, namun paradigma kita, khususnya guru dan orangtua, pun harus mampu menyesuaikan diri dengan positif. Sekarang, apakah sistem pendidikan, kurikulum dan staf pengajar di sekolah Anda siap menghadapi tantangan ini?

Harus siap. Karena, kita tidak akan pernah tahu perubahan apalagi yang akan terjadi 20 tahun lagi. Untuk itulah, kita harus mempersiapkan dan membekali generasi penerus kita menjadi pembelajar sepanjang hayat untuk dapat menciptakan inovasi baru dalam memberikan solusi bagi kehidupan masyarakat di masa mendatang.


Penulis: Markus Mardianto/Program Developer and Facilitator Pedagogy di Sampoerna Foundation Teacher Institute

Sumber: Hadapi "Generasi Digital", Kita Harus Siap!(Bagian III-Habis)



0 Comments:

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online