by Uwes A. Chaeruman
Beruntung, kemaren dua hari berkesempatan bertemu muka dengan para guru Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliah seluruh Indonesia, khususnya mereka yang mengajar Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Saya diminta “cuap-cuap” tentang media interaktif dan pemanfaatan aneka sumber belajar. Karena temanya itu, maka saya sedikit “pelintir” judul materi itu menjadi “Pembelajaran Aktif dengan Memanfaatkan Aneka Media dan Sumber Belajar”.
Waktunya cukup mendadak, sehingga saya harus memutar otak menciptakan strategi pembelajaran yang menurut saya memungkinkan peserta tidak “menguap” karena waktunya cukup panjang, sekitar 8 Jam Pelatihan. Ya, cukup sehari lah …. Akhirnya, ketemulah strategi itu dengan memanfatkan metode video show, refleksi, diskusi, dan praktek. Berharap, pembeklajaran akan lebih aktif, menarik dan tidak berkesan menggurui, mengingat mereka adalah para guru senior dan pilihan.
Untuk menggugah peserta, sesuai dengan prinsip T-A-N-D-U-R (Quantum Teaching), saya mulai dengan Tumbuhkan melalui video show tentang pembelajaran aktif seorang guru teladan Inggris. Beruntung peserta diklat dapat menonton video ini. Kenapa? Biasanya pemerintah mengadakan penataran PAKEM (pembelajaran aktif, kreatifm efektif dan menyenangkan) selama tuju hari. Ups, waktunya disunat dink menjadi 3 hari. Lumayan peserta senang, begityu juga Pimpro he he he. Nah, dengan video tersebut, cukup 10 menit peserta sudah mendapat gambaran yang jelas tentang contoh PAKEM. Pertanyaannya adalah, apakah mau menerapkan atau tidak, bukan bisa atau tidak. Al-hasil, peserta diklat banyak yang menyodorkan flash disk, minta dicopykan.
Intinya, pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang mengkombinasikan beragam metode dan media serta sumber belajar yang relevan dengan tujuan yang diinginkan, dimana siswa menjadi pemain utama dan guru sebagai sutradaranya. Setelah refleksi diri, akhirnya peserta diklat mengakui bahwa dalam pembelajaran di kelas selama ini, gurulah yang menjadi pemain utama dan siswa sebagai penonton. Sebagaian besar waktu (jam pelajaran) yang seharusnya menjadi hak siswa untuk mengalami persitiwa belajar, habis dirampas oleh guru untuk menjelaskan atau menyampaikan materi pelajaran. Beda banget ya, bagai langit dan bumi…
Tapi, masalahnya bisa berubah gak? Ternyata, pertanyaan itu salah. Harusnya mau berubah apa gak? Dengan kata lain rela ga meninggalkan enaknya menjadi, “Pemeran Utama” dan berpindah peran menjadi “Suteradara Pembelajaran”? Gimana, mau mau mau?
Kalo mau, gunakan prinsip K7G. apaan tuh! Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif dan Go-Blog (Go to Blogging). He he he, maksudnya, guru harus super kreatif, stop mengeluhkan sesuatu yang diluar kendali kita (misalnya kebijakan pemerintah yang kontraproduktif, sarana-prasarana yang tidak memadai, dll), tapi tetap Gila dengan ide kreatifnya untuk menyutradarai pembelajan secara menarik dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada. Kalo terus-terusna mengeluhkan keadaan, kapan mulainya? tul ga? Nah, kalo bisa ke depan bisa lebih Go-Blog alias menjadi blogger, menyebarkan best practice cara mengajar terbaik kita kepada guru lain melalui media virtual alias internet.
Contohnya begini… suatu hari, sang guru dengan bangga masuk di kelas menenteng laptop dan LCD projector. Ia mengajar panjang lebar tentang perbedaan antara zat padat, cair, dan gas kepada siswanya dengan menggunakan slide presentasi. Dua jam pelajaran ia habiskan untuk mengajar hal tersebut. Disisi lain, nun jauh di sebuah kecamatan terpencil, seorang guru mengajar topik yang sama. Tapi Ia tidak memanfaatkan teknologi canggih seperti guru pertama tadi. Ia melakukan simulasi zat padat dengan meminta beberapa siswa berpegangan erat satu sama lain dan meminta seorang siswa lain untuk menerjang. Terjangan siswa lain tidak mampu menembus sekelompok siswa yang saling berpegang erat tersebut. Sebagai perbandingan, sang guru meminta kelompok siswa untuk tidak berpegangan erat, dan meminta seorang siswa lain menerjang, ternyata dapat diterjang dengan mudah. Kemudian, guru tersebut menyampaikan kepada siswanya, itulah sifat benda padat, molekul didalamnya terikat erat satu sama lain sehingga keras. Sementara sebaliknya, gas memiliki molekul yang ikatannya tidak erat sehingga mudah menguap.”
Contoh pertama, guru lebih berperan sebagai sutratdara dan siswa sebagai penonton, walaupun teknologi yang digunakan lebih canggih dibandingkan guru kedua. Sebaliknya, guru kedua dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada, dia mampu menanamkan konsep zat padat, dan gas dengan lebih baik. Guru kedua telah mampu menjadi sutradara yang jeli memanfaatkan peluang berupa sumber belajar yang ada dan mampu membuat siswanya menjadi pemain utama dalam pembelajaran tersebut. Contoh kedua inilah yang menurut saya yang sebaiknya kita tiru. Tidak terkungkung oleh keluhan, habis gak ada ini, habis pemerintah kebijakannya begitu… de el el …
yup, walau bagaimanapun ini pendapat saya…
Sumber: Guru: Pemeran Utama atau Sutradara Pembelajaran?
Saturday, April 11, 2009
Guru: Pemeran Utama atau Sutradara Pembelajaran?
Posted by 4315931117 at 12:12 AM
Labels: artikel gratis, belajar, belajar mengajar, geografi, guru, pendidikan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 Comments:
Post a Comment