Tuesday, April 14, 2009

Hadapi "Generasi Digital", Kita Harus Siap!(Bagian III-Habis)

Dengan begitulah tercipta sinergi antara guru, orang tua, dan murid. Jika murid dan orang tua kemudian bisa berkomunikasi di rumah, sinergi itu kemudian mencipta komunikasi antara guru dan murid untuk berbagi pengalaman saat kembali menerapkan teknologi di dalam kelas.

Di beberapa pelatihan yang digelar oleh Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI), para pendidik diberi kesempatan mengembangkan cara merancang kebijakan dalam penggunaan teknologi di sekolah dengan melibatkan partisipasi siswa. Tujuannya, proses pembelajaran menggunakan teknologi ini memungkinkan terciptanya rasa tanggung jawab yang tumbuh dari diri siswa untuk menjaga nama baik siswa, guru, dan sekolahnya.

Setelah peserta mengetahui upaya menciptakan guru dan siswa menjadi warga digital yang baik tersebut, Gerald Donovan, Wakil Direktur sekaligus Guru Bahasa Inggris di Sekolah Bogor Raya, melengkapi sesi pelatihan berikutnya dengan judul 'How to Utilize Web 2.0 in Learning Processes'. Di sini, peserta diperlihatkan berbagai contoh situs pembelajaran online, baik yang dikembangkan oleh guru maupun oleh siswa.

Pada sesi pelatihan terakhir itu, Gerald, yang rajin menggunakan teknologi dalam proses pembelajarannya, mengajak peserta berpraktek langsung melakukan interaksi secara online menggunakan beberapa teknologi Web 2.0. Mereka, para guru itu, dikenalkan mulai dari Google Earth, Google Sketch Up, Delicious, Youtube, Wiki, serta beberapa online games yang dapat digunakan guru dan orangtua dalam memfasilitasi proses pendidikan, baik di sekolah maupun rumah.

Berangkat dari situ, Gerald kembali menggaris bawahi kebijakan sekolah dalam penggunaan internet, yang disebutnya dengan Acceptable Used Policy (AUP). Dalam hal ini, beliau menegaskan anak yang terlibat dalam situs terlarang adalah anak yang memang berniat mengaksesnya. Sebaliknya, mereka akan mengalihkan situs tersebut bila mereka tidak menginginkannya.

Jadi, kunci utama sebenarnya adalah empowerment, bukan control terhadap anak maupun kebijakan sekolah itu sendiri. Lalu, Gerald pun mengajak peserta yang terdiri dari guru dan orang tua murid agar memiliki keinginan untuk memulai dan terus belajar menggunakan teknologi di setiap saat membimbing anak dan siswanya dalam menggunakan teknologi. Gerald mengharapkan, para guru dan orang tua bisa berkomunikasi dan berbagi pengalaman saat mereka kembali ke sekolah ketika menerapkan teknologi di kelasnya.

Tentu hal ini tidaklah mudah bagi seorang guru ataupun orangtua dalam mempersiapkan anaknya sebagai ahli waris teknologi di dunia pendidikan. Perlu adanya komitmen yang kuat dan jalinan kerjasama yang baik antara pemerintah, kepala sekolah, guru, siswa dan orangtua serta masyarakat dalam merubah paradigma ini.

Ya, sebuah perubahan yang baik perlu diselaraskan dengan cara pandang yang baik pula. Kita tak lagi dapat bersembunyi dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Banyak aspek kehidupan yang belum lahir 20 tahun yang lalu, kini hadir di tengah-tengah kita, di jenis lapangan kerja baru, materi perkuliahan baru, serta bisnis dan industri baru, baik skala kecil, menengah, maupun besar.

Perubahan akan terus berlanjut, namun paradigma kita, khususnya guru dan orangtua, pun harus mampu menyesuaikan diri dengan positif. Sekarang, apakah sistem pendidikan, kurikulum dan staf pengajar di sekolah Anda siap menghadapi tantangan ini?

Harus siap. Karena, kita tidak akan pernah tahu perubahan apalagi yang akan terjadi 20 tahun lagi. Untuk itulah, kita harus mempersiapkan dan membekali generasi penerus kita menjadi pembelajar sepanjang hayat untuk dapat menciptakan inovasi baru dalam memberikan solusi bagi kehidupan masyarakat di masa mendatang.


Penulis: Markus Mardianto/Program Developer and Facilitator Pedagogy di Sampoerna Foundation Teacher Institute

Sumber: Hadapi "Generasi Digital", Kita Harus Siap!(Bagian III-Habis)
...lengkapnya

"Generasi Digital", Siapkah Kita Menghadapinya? (Bagian II)

Keberadaan siswa dan anak kita sebagai "penduduk asli" dunia digital bukan berarti membebaskan tanggung jawab dan kewajiban kita untuk terus membimbing mereka tentang manfaat teknologi. Bahkan, saat melihat mereka lebih menguasai dalam penggunaan teknologi ketimbang kita sebagai orang dewasa, mereka bukan tidak butuh perhatian dan pendampingan kita.

Memang, berbeda dengan kita, mereka tidak takut mencoba apapun yang belum mereka kuasai. Harus diakui, inilah kali pertama dalam sejarah umat manusia, bahwa generasi muda memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih luas dalam aspek pendidikan dibandingkan generasi sebelumnya, yang biasanya berperan sebagai instruktur dan narasumber bagi mereka.

Melihat fenomena itu, salah satu aspek yang erat sekali hubungannya adalah aspek pendidikan. Tiga pilarnya yang langsung menyentuh dengan kehidupan digital mereka itu adalah sekolah, guru, dan orang tua. Adalah tanggung jawab guru dan orang tua untuk memilah dan memaksimalkan peran teknologi sebagai alat dalam proses pembelajaran di sekolah maupun di rumah.

Dalam forum Educator Sharing Network (ESN) dengan topik 'Digital Natives vs Digital Immigrants' yang diselenggarakan oleh Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI), di Jakarta, bulan Januari lalu, seorang praktisi pendidikan, Agus Sampurno dari Sekolah Global Jaya, memaparkan fenomena ini di depan lebih dari 100 audiensi. Mereka datang dari kalangan guru, orangtua, kepala sekolah dan pemerhati pendidikan lainnya.

Di forum itu, Agus menyatakan, sebagai pendidik kita tak bisa lagi mengajar anak didik dengan cara-cara seperti dulu. Kita perlu memahami apa yang disukai anak kita saat ini. Untuk itulah, "jurang pemisah" antara warga asli dan warga pendatang harus dijembatani, sehingga akan terjadi sinergi yang baik antara kedua generasi itu.

Selang dua minggu kemudian, SFTI kembali memfasilitasi kegiatan serupa dengan tema yang masih berkaitan dengan dunia digital. Dibawakan oleh Jane Ross, seorang guru kelas 5 SD dari Sinarmas World Academy, topik diskusi kali itu bertajuk 'Karya Anak Online'. Rose memaparkan, dengan teknologi sederhana seperti kamera pada telepon genggam ternyata dapat menciptakan pembelajaran menarik bagi siswa. Namun beliau menambahkan, sayangnya banyak guru yang belum menyadari hal tersebut.

Untuk itulah, masih dalam rangka menindaklanjuti refelksi kedua forum tersebut, SFTI kembali menggelar serangkaian seminar sehari dan pelatihan dua hari. Dilaksanakan pada tengah Februari 2009 lalu, seminar bertajuk 'The Gap Between Digital Natives and Digital Immigrants' kali ketiga ini dibawakan oleh tandem Agus Sampurno dan Gerald Donovan, Wakil Direktur sekaligus Guru Bahasa Inggris di Sekolah Bogor Raya. Seminar berupaya membuka jendela informasi bagi peserta, bahwa perubahan global yang dulu diperkirakan hanya akan terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, ternyata telah terjadi di negara-negara Asia seperti India dan Cina.

Sejatinya lewat penyelenggaraan forum tersebut, banyak guru dan pemerhati pendidikan yang kemudian terbuka paradigmanya. Bahwa, teknologi tidak selalu mutlak dikaitkan dengan mata ajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Sebaliknya, mata ajaran apapun dapat terintegrasi dengan penggunaan TIK, selama guru mulai mencoba dan mengembangkan kurikulumnya dengan maksimal.

Refleksi positif lainnya dari kedua forum itu, guru pun perlu dibekali pelatihan penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Karena untuk mencapai hasil belajar maksimal, guru harus mengenali dan menyelami cara mereka belajar saat ini. Mereka adalah digital natives, yang sangat mementingkan peran digital tecnology dalam proses pembelajarannya.

Terkait dunia mereka, beberapa keadaan yang tidak mudah dikendalikan adalah soal kekerasan dan pelecehan di internet. Keadaan itu biasa dikenal dengan istilah cyber bullying. Mereka mampu melakukan segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan di dunia nyata. Dan jika hal itu ditanggapi dengan positif, guru akan memahami bahwa siswa yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan berkomunikasi di dunia nyata akan terfasilitasi dengan teknologi Web 2.0.

Ya, di situlah peran guru dimulai, yaitu untuk ikut berkomunikasi dengan mereka, membimbing mereka di dunia nyata. Apalagi saat ini, banyak anak didik kita yang memiliki sifat ’pendiam’, namun memiliki blog pribadi yang berisi ekspresi-ekspresi nan lugas dan karya tulis mengagumkan. Sebaliknya, semua ekspresi itu belum pernah ditunjukkannya di dunia nyata.

Sejatinya, hal tersebut menggambarkan, betapa peran orang dewasa sangat diperlukan untuk mendampingi mereka dalam proses belajar. Alhasil, kalau orangtua dan guru tidak terlibat, kita tidak tahu apa yang telah dilewatkan. Untuk itu, perlu kiranya para digital immigrants seperti kita pun mengenal beberapa contoh situs terkait langsung dengan nilai-nilai sebagai warga digital.

Penulis: Markus Mardianto/Program Developer and Facilitator Pedagogy di Sampoerna Foundation Teacher Institute)

Sumber: "Generasi Digital", Siapkah Kita Menghadapinya? (Bagian II)


...lengkapnya

"Generasi Digital", Siapkah Kita Menghadapinya? (Bagian I)

Teknologi tak bisa dikendalikan. Google, Yahoo, Blog, Wikipedia, Youtube, Facebook, serta nama-nama lain dalam teknologi Web 2.0 saat ini seolah bagian dari keseharian para siswa, anak-anak didik kita. Meski hanya sehari, tanpa telepon genggam pun hati mereka rasanya tak tenang. Sesaat, tanpa itu semua hidup serasa hampa.

Cukup lewat jari-jari, segalanya pun begitu mudah dan ringkas tersaji di depan mata. SMS, kamera, MP3/MP4 Player, Bluetooth, 3G, GPRS, GPS, dan banyak lagi yang membuat mereka sangat mudah menjalani hari demi
harinya. Oleh mereka, dunia serasa semakin kecil, karena kini memang sudah tergenggam di tangannya.

Interaksi sosial pun mereka lalui tanpa melewatkan teknologi. Warnet atau kafe-kafe hotspot seakan "rumah kedua". Kafe bukan lagi milik orang dewasa, melainkan "milik bersama" mereka, yang rutin mereka sambangi. Di situlah mereka kerap berkenalan, berbincang, serta membangun jaringan sosial sambil menyeruput segelas coklat atau kopi panas.

Sulit dimungkiri, seperti itulah kiranya sebagian besar wajah generasi muda kita saat ini. Wajah, yang pada tahun 1980-an silam, mungkin tak sempat atau pernah kita bayangkan bakal terjadi.

Ya, mereka memang terlahir dan hidup dalam dunia digital, dunia yang diadopsi sebagai bagian keseharian, gaya belajar, serta berinteraksi sosial. Mereka adalah generasi digital natives, penduduk asli dunia digital. Mereka, melalui naluri alamiahnya, bisa dengan mudah mencari berbagai informasi, belajar dan memecahkan masalahnya sendiri, serta menciptakan berbagai inovasi kreatif dengan segala pernak-pernik teknologi.

Mereka nikmati musik secara digital, bermain pun secara online. Mereka cenderung menyukai komputer, gambar, animasi, video, dan terakhir barulah dokumen berbentuk teks.

Mereka pun menghayati perannya sebagai multi tasking. Mereka menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan cara dan dalam waktu bersamaan. Sementara kita, orang dewasa, adalah digital immigrants. Kita adalah warga pendatang di dunia digital mereka itu. Kita cenderung menyukai informasi dalam bentuk kertas dangan banyak teks, barulah kemudian gambar dan video.

Kini, bagaimana kita (para pendidik dan orang tua) menyikapi fenomena ini? Apa solusinya?

Sumber: "Generasi Digital", Siapkah Kita Menghadapinya? (Bagian I)

...lengkapnya

Saturday, April 11, 2009

Guru: Pemeran Utama atau Sutradara Pembelajaran?

by Uwes A. Chaeruman

Beruntung, kemaren dua hari berkesempatan bertemu muka dengan para guru Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliah seluruh Indonesia, khususnya mereka yang mengajar Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Saya diminta “cuap-cuap” tentang media interaktif dan pemanfaatan aneka sumber belajar. Karena temanya itu, maka saya sedikit “pelintir” judul materi itu menjadi “Pembelajaran Aktif dengan Memanfaatkan Aneka Media dan Sumber Belajar”.

Waktunya cukup mendadak, sehingga saya harus memutar otak menciptakan strategi pembelajaran yang menurut saya memungkinkan peserta tidak “menguap” karena waktunya cukup panjang, sekitar 8 Jam Pelatihan. Ya, cukup sehari lah …. Akhirnya, ketemulah strategi itu dengan memanfatkan metode video show, refleksi, diskusi, dan praktek. Berharap, pembeklajaran akan lebih aktif, menarik dan tidak berkesan menggurui, mengingat mereka adalah para guru senior dan pilihan.

Untuk menggugah peserta, sesuai dengan prinsip T-A-N-D-U-R (Quantum Teaching), saya mulai dengan Tumbuhkan melalui video show tentang pembelajaran aktif seorang guru teladan Inggris. Beruntung peserta diklat dapat menonton video ini. Kenapa? Biasanya pemerintah mengadakan penataran PAKEM (pembelajaran aktif, kreatifm efektif dan menyenangkan) selama tuju hari. Ups, waktunya disunat dink menjadi 3 hari. Lumayan peserta senang, begityu juga Pimpro he he he. Nah, dengan video tersebut, cukup 10 menit peserta sudah mendapat gambaran yang jelas tentang contoh PAKEM. Pertanyaannya adalah, apakah mau menerapkan atau tidak, bukan bisa atau tidak. Al-hasil, peserta diklat banyak yang menyodorkan flash disk, minta dicopykan.

Intinya, pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang mengkombinasikan beragam metode dan media serta sumber belajar yang relevan dengan tujuan yang diinginkan, dimana siswa menjadi pemain utama dan guru sebagai sutradaranya. Setelah refleksi diri, akhirnya peserta diklat mengakui bahwa dalam pembelajaran di kelas selama ini, gurulah yang menjadi pemain utama dan siswa sebagai penonton. Sebagaian besar waktu (jam pelajaran) yang seharusnya menjadi hak siswa untuk mengalami persitiwa belajar, habis dirampas oleh guru untuk menjelaskan atau menyampaikan materi pelajaran. Beda banget ya, bagai langit dan bumi…

Tapi, masalahnya bisa berubah gak? Ternyata, pertanyaan itu salah. Harusnya mau berubah apa gak? Dengan kata lain rela ga meninggalkan enaknya menjadi, “Pemeran Utama” dan berpindah peran menjadi “Suteradara Pembelajaran”? Gimana, mau mau mau?

Kalo mau, gunakan prinsip K7G. apaan tuh! Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif, Kreatif dan Go-Blog (Go to Blogging). He he he, maksudnya, guru harus super kreatif, stop mengeluhkan sesuatu yang diluar kendali kita (misalnya kebijakan pemerintah yang kontraproduktif, sarana-prasarana yang tidak memadai, dll), tapi tetap Gila dengan ide kreatifnya untuk menyutradarai pembelajan secara menarik dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada. Kalo terus-terusna mengeluhkan keadaan, kapan mulainya? tul ga? Nah, kalo bisa ke depan bisa lebih Go-Blog alias menjadi blogger, menyebarkan best practice cara mengajar terbaik kita kepada guru lain melalui media virtual alias internet.

Contohnya begini… suatu hari, sang guru dengan bangga masuk di kelas menenteng laptop dan LCD projector. Ia mengajar panjang lebar tentang perbedaan antara zat padat, cair, dan gas kepada siswanya dengan menggunakan slide presentasi. Dua jam pelajaran ia habiskan untuk mengajar hal tersebut. Disisi lain, nun jauh di sebuah kecamatan terpencil, seorang guru mengajar topik yang sama. Tapi Ia tidak memanfaatkan teknologi canggih seperti guru pertama tadi. Ia melakukan simulasi zat padat dengan meminta beberapa siswa berpegangan erat satu sama lain dan meminta seorang siswa lain untuk menerjang. Terjangan siswa lain tidak mampu menembus sekelompok siswa yang saling berpegang erat tersebut. Sebagai perbandingan, sang guru meminta kelompok siswa untuk tidak berpegangan erat, dan meminta seorang siswa lain menerjang, ternyata dapat diterjang dengan mudah. Kemudian, guru tersebut menyampaikan kepada siswanya, itulah sifat benda padat, molekul didalamnya terikat erat satu sama lain sehingga keras. Sementara sebaliknya, gas memiliki molekul yang ikatannya tidak erat sehingga mudah menguap.”

Contoh pertama, guru lebih berperan sebagai sutratdara dan siswa sebagai penonton, walaupun teknologi yang digunakan lebih canggih dibandingkan guru kedua. Sebaliknya, guru kedua dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada, dia mampu menanamkan konsep zat padat, dan gas dengan lebih baik. Guru kedua telah mampu menjadi sutradara yang jeli memanfaatkan peluang berupa sumber belajar yang ada dan mampu membuat siswanya menjadi pemain utama dalam pembelajaran tersebut. Contoh kedua inilah yang menurut saya yang sebaiknya kita tiru. Tidak terkungkung oleh keluhan, habis gak ada ini, habis pemerintah kebijakannya begitu… de el el …

yup, walau bagaimanapun ini pendapat saya…

Sumber: Guru: Pemeran Utama atau Sutradara Pembelajaran?

...lengkapnya

Wednesday, April 8, 2009

Lima Kelemahan Guru Dalam Mengajar

Tulisan ini bukan merupakan kesimpulan atas kinerja guru secara umum, tetapi hanyalah merupakan temuan penulis selama melaksanakan supervisi kunjungan kelas pada beberapa sekolah yang menjadi binaan penulis ditambah dengan pengamatan penulis pada saat mengikuti kegiatan lesson study MGMP Bahasa Inggris beberapa waktu yang lalu. Sengaja diberi judul demikian karena yang akan dipaparkan adalah kelemahan-kelemahan yang nyata ditemukan penulis. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjadi input bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya.

Dari pengamatan penulis terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dapat dikemukakan beberapa kelemahan antara lain :

1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran
RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir.
Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.
Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.

2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar

Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa.
Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.

3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa

Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku “menyimpang” seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.

4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat
pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.

5. Tidak melaksanakan evaluasi
Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.

Sumber: Lima Kelemahan Guru dalam Mengajar

...lengkapnya

Guru Perlu Kreatif Agar Siswa Tak Bete

oleh: Marjohan
Cukup banyak guru-guru mengatakan merasa capek atau lesu apabila harus segera masuk kelas untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam pengontrolan absensi, hampir setiap hari ada surat-surat guru yang datang mengabarkan halangan mereka untuk tidak datang ke sekolah.

Pada umumnya alasan serius atau alasan berpura-pura guru dalam suratnya sehingga berhalangan untuk tidak hadir di sekolah karena sakit. Sering alasan lain adalah untuk memohon izin karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Kalau kita fikirkan siapakah orang di dunia yang luput dari urusan keluarga. Tetapi rasanya tidak logis kalau seorang guru sempat dalam satu bulan membuat alasan sepele dan berhalangan untuk mengajar sebanyak sekian kali. Dan alasan sepele ini cukup banyak dilakukan oleh guru-guru.

Dapat dikatakan, buat sementara, bahwa keabsenan guru-guru dari sekolah alasan, berpura-pura dalam alasan, karena rasa tersandung oleh bosan selama proses belajar mengajar. Kemalasan guru-guru yang lain sering terekspresi dalam bentuk kelesuan setiap kali harus menaikkan kewajiban dalam PBM. Meskipun bel tanda masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu namun masih banyak guru-guru yang ingin menyelesaikan gosip-gosip ringan sesama guru. Malah ada sebagian guru ada yang sengaja hilir-mudik atau berpura kasak-kusuk dalam mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sampai akhirnya selalu terlambat tiba di kelas dan kemudian sengaja pula agak cepat untuk meninggalkan kelas.

Kebosanan dalam PBM disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari guru dan faktor yang berasal dari murid.

Pengabaian kedua faktor ini akan menyebabkan masalah dalam PBM tidak teratasi. Untuk memuluskan PBM maka kedua faktor ini harus dipahami dan diatasi.

Rata-rata guru merasa enggan untuk memasuki kelas-kelas dengan siswa mempunyai daya serap rendah atau bodoh. Gairah mengajar guru untuk mengajar kerap kali terpancing karena di dalam kelas ada beberapa orang siswa yang cukup pintar.

Namun sejak keberadaan kelas unggul di setiap sekolah maka siswa-siswa yang memiliki daya serap tinggi terkonsentrasi ke dalam satu kelas saja. Maka gairah guru untuk melaksanakan PBM hanya lebih tertuju untuk kelas unggul.

Sedangkan untuk kelas-kelas non unggul yang jumlahnya cukup banyak dengan kemampuan siswa rendah terpaksa dimasuki oleh guru dengan rasa lesu dan letih. Tentu tidak semua guru yang menunjukkan gejala yang demikian.

Pada umumnya penyebab melempemnya daya serap siswa di sekolah adalah karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisa.
Kebiasaan dalam belajar cuma menghafal melulu. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam PBM.

Tidak banyak siswa yang terbiasa dengan budaya membaca sehingga akibatnya adalah tidak banyak pula siswa yang memiliki daya serap tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali orang tua yang ikut campur dalam masalah waktu anak dan gemar “mencikaraui” anak akan menjadikan anaknya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah.

Faktor yang datang dari guru cukup bervariasi. Dulu menjadi guru memang serba dihormati dan tentu saja menyenangkan. Tetapi belakangan ini, bahkan terlalu banyak korban perasaan apalagi semenjak remaja banyak mengalami emosi moral.

Karena terus terang saja, siswa-siswanya terdiri dari anak-anak yang kebanyakan tidak diwarisi nilai agama yang mantap oleh orang tua. Ada juga siswa yang merupakan anak-anak pejabat yang kaya-kaya dan anak orang berada sedangkan guru-gurunya miskin.
Faktor yang menyebabkan guru merasa bosan dalam PBM mungkin karena kelelahan. Barangkali ia memiliki jumlah jam yang terlalu banyak.

Walau pada sekolah pengabdiannya hanya mengajar beberapa jam saja, tetapi karena tuntutan hidup ia menjadi guru sukarela pula pada suatu atau dua sekolah lain. Atau bisa jadi karena kelelahan fisik setelah menjadi guru selama puluhan tahun. Sering kita lihat para guru-guru tua yang belum sudi untuk pensiun merasa segan untuk melakukan PBM.

Secara mayoritas guru kelihatan kurang termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Mereka tidak banyak membaca, walaupun sebatas membaca koran dan majalah, sehingga jadilah ilmu pengetahuan mereka sempit dan dangkal. Kebanyakan guru-guru sehabis mengajar ya habis begitu saja. Begitulah kegiatan rutin mereka hari demi hari sampai akhirnya rasa bosan menyelinap ke dalam fikiran.

Ada guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas dan cukup hangat dalam bergaul bersama siswa. Namun juga sering mengeluh bosan untuk melakukan PBM sehingga mengajar secara serampangan dengan metode kuno sepanjang hari. Guru yang seperti ini sebaiknya harus segera melakukan introspeksi diri dan kemudian memutuskan apakah karir sebagai guru cocok baginya atau tidak. Tetapi pada umumnya mereka tetap bertahan mengajar dalam kebosanan karena tidak mampu mencari pekerjaan jenis lain yang cocok bagi diri, maklum banyak orang terserang sindrom pegawai negeri dengan alasan jaminan untuk hari tua.

Setiap guru banyak terdengar keluhan guru-guru. Ada yang mengeluhkan badan kurang enak karena sakit kepala, sakit gigi, perut terasa kembung atau badan terasa pegal-pegal dimana ini semua adalah kompensasi dari bentuk rasa bosan. Mereka bosan untuk menunaikan tanggung jawab. Dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif sehingga mereka jarang yang menjadi guru profesional.

Memang secara umum guru-guru terlihat kurang kreatif dan sebagian kecil tentu ada yang kreatif. Rata-rata guru menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka masih berfilsafat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalkannya tanpa melupakan titik dan komanya sekalipun. Penanganan masalah yang ditemui selama PBM pun juga secara tradisional. Kalau murid bersalah musti diberi nasehat dan kebanyakan sistem pemberian nasehat dalam bentuk komunikasi satu arah, dimana yang sering terlihat ketika guru bertutur kata adalah siswa menekur atau tidak boleh menjawab. Tetapi sekarang entah guru-guru banyak yang tidak bertuah dalam bertutur kata karena kesempitan ilmu dan wawasannya atau karena penghargaan murid semakin berkurang karena kurang diwarisi nilai agama oleh orang tua maka sekarang seakan melebar jurang dalam komunikasi.

Kreativitas guru pun terlihat lemah dalam PBM. Presentasi pengajaran sudah terlihat semakin basi karena menggunakan metode itu ke itu juga. Gema hasil mengikuti penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sekali sekali dalam bentuk aplikasi. Kecuali yang terlihat adalah setelah guru mengikuti MGMP guru cuma semakin tertib dalam menulis satuan pelajaran tetapi belum bentuk aplikasi.

Diantara guru-guru yang belum lagi mampu memperlihatkan kreativitas, kita juga melihat guru-guru yang kreatif. Meski mengajar banyak, namun karena kreatif mereka tetap tampak ceria dan segar dalam mengajar.

Kreatifitas seseorang, juga guru, sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu menjadi guru ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri. Adalah sangat tepat bila seorang guru selain memahami bidang studinya juga mendalami pengetahuan umum lainnya sebagai khazanah dirinya. Guru yang luas wawasan dan ilmu pengetahuannya akan tidak pernah kehabisan bahan dalam proses belajar mengajar. Kalau sekarang ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengajar itu adalah seni, maka mustahillah guru yang kering akan ilmu dan sempit wawasan dapat mengaplikasikannya sebagi seni.

Mengikuti program penyegaran dalam bentuk kegiatan penataran, musyawarah kerja, dan program peningkatan kualitas lain sungguh tepat. Sayang selama ini terlihat kegiatan-kegiatan penyegaran yang ada belum dikemas secara profesional. Dengan arti kata selama mengikuti program penyegaran, guru-guru hanya terlihat secara pasif dan paling kurang bertindak sebagai pendengar abadi. Itulah dampaknya setiap kali seorang guru selesai mengikuti MGMP dan penataran lain, misalnya, seolah-olah tidak membawa perubahan dalam proses belajar mengajar. Terasa seakan-akan apa yang diperoleh selama mengikuti penataran-penataran digambarkan dengan ungkapan “masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja.”

Melatih diri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam bentuk berpidato atau berceramah untuk masyarakat dan menyempatkan diri untuk menulis artikel-artikel adalah bentuk lain dari pengembangan kreativitas guru.

Mendalami psikologi remaja sehingga guru dapat memahami meningkatkan kreativitas guru dalam bertindak. Rata-rata guru yang kreatif adalah guru yang kaya akan ide-ide dan menerapkan bentuk nyata. Dalam realita tampak bahwa kreativitas dapat mengatasi rasa bosan.

Marjohan
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
Program Layanan Keunggulan

Sumber: Guru Perlu Kreatif Agar Siswa Tak Bete

...lengkapnya

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online